RI Makin Kurangi Dollar AS, Transaksi Mata Uang Lokal Tembus Rp 400 T
Ilustrasi rupiah. (Shutterstock/Travis182)
12:04
24 Mei 2026

RI Makin Kurangi Dollar AS, Transaksi Mata Uang Lokal Tembus Rp 400 T

- Upaya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS mulai menunjukkan hasil. Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi Local Currency Transaction (LCT) pada Januari-April 2026 mencapai 22,61 miliar dollar AS atau sekitar Rp 400,19 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.700 per dollar AS.

Nilai transaksi menggunakan mata uang lokal tersebut melonjak 309 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 7,33 miliar dollar AS. Kenaikan ini mencerminkan makin besarnya penggunaan mata uang domestik dalam perdagangan dan transaksi lintas negara.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama mengatakan, pertumbuhan transaksi LCT menunjukkan semakin kuatnya upaya Indonesia menekan ketergantungan terhadap dollar AS di tengah ketidakpastian global.

"Ini baru Januari sampai April. Moga-moga terus naik ya, baik volume maupun pelakunya," ujar Ruth saat media briefing di Makassar, Jumat (21/6/2026).

Baca juga: Rupiah Babak Belur di Asia, Cuma Menang Lawan Rupee India

China Jadi Mitra Utama

Dalam implementasi LCT, China menjadi mitra terbesar Indonesia dengan kontribusi mencapai 89 persen dari total transaksi. Sementara Jepang dan Malaysia masing-masing menyumbang 6 persen dan 3 persen.

Ruth menjelaskan, tren penggunaan mata uang lokal kini semakin berkembang karena banyak negara mulai menyadari pentingnya efisiensi transaksi bilateral, terutama saat tensi perdagangan internasional meningkat.

Menurut dia, sejumlah negara yang sebelumnya masih menunda implementasi kerja sama transaksi mata uang lokal kini mulai mempercepat realisasinya.

"Dengan pertimbangan tertentu, mereka pasti punya pertimbangan tertentu seperti kita juga. Tetapi akhirnya mereka menyadari, ayo deh kita segerakan," katanya.

Baca juga: Rupiah 17.700 dan Hantu yang Belum Tentu Kembali

Dollar AS Masih Dominan

Meski demikian, Ruth menegaskan penggunaan mata uang lokal bukan berarti meninggalkan dollar AS sepenuhnya. Dollar AS tetap menjadi mata uang utama dalam sistem keuangan global.

Namun untuk negara-negara dengan hubungan perdagangan langsung yang besar dengan Indonesia, penggunaan mata uang domestik dinilai lebih efisien dibanding harus melalui konversi dollar AS terlebih dahulu.

"Untuk negara-negara yang memang transaksinya banyak langsung, bisa dengan (mata uang) domestik, kenapa kita harus pakai dollar AS dulu? Karena kalau muter, namanya muter, udah pasti ada middleman, udah pasti nggak efisien," ungkapnya.

Baca juga: Rupiah Terus Melemah, LPEM UI: Instrumen Moneter Tak Lagi Cukup

Sebagai informasi, LCT merupakan mekanisme transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal yang dilakukan melalui bank yang ditunjuk atau Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) oleh bank sentral masing-masing negara.

Melalui skema ini, eksportir dan importir dapat bertransaksi langsung menggunakan mata uang domestik tanpa harus memakai dollar AS sebagai mata uang perantara.

Saat ini implementasi LCT Indonesia telah berjalan dengan Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Singapura. BI juga tengah memperluas kerja sama dengan sejumlah negara lain, termasuk India dan Arab Saudi.

Baca juga: Purbaya Akan Dorong Rupiah ke Rp 15.000 Per Dollar AS: Pemain Valas, Cepat-cepat Jual Lah...

Tag:  #makin #kurangi #dollar #transaksi #mata #uang #lokal #tembus

KOMENTAR