ID Food Kesulitan Kemasan, Pasokan Plastik Seret Imbas Konflik Timur Tengah
Warga memilih gelas plastik di Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/4/2026). Harga produk berbahan plastik di pasar tersebut beranjak naik sejak awal April 2026 akibat terganggunya impor bahan baku dari Timur Tengah, seperti nafta sebagai bahan utama yang menyebabkan pasokan berkurang dan biaya produksi serta distribusi meningkat sehingga mendorong kenaikan harga jual di tingkat pedagang berkisar Rp4.000 - Rp10.000 per produk atau sekitar 30 hingga 80 persen.
12:48
7 April 2026

ID Food Kesulitan Kemasan, Pasokan Plastik Seret Imbas Konflik Timur Tengah

PT ID Food (Rajawali Nusantara Indonesia) menghadapi tekanan baru dalam distribusi pangan. Perusahaan kesulitan memperoleh plastik untuk kemasan produk.

Direktur Utama ID Food Ghimoyo menyampaikan kondisi tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

“Kami kesulitan yang sekarang lagi terasa di pihak kami sebagai pemain pangan, yaitu kesulitan kemasan,” kata Ghimoyo.

Baca juga: Kenaikan Harga Plastik dan Cermin Kerentanan Ekonomi

Ghimoyo menjelaskan, gangguan mulai terasa di hulu industri. Produsen plastik mengalami keterbatasan bahan baku.

“Jadi di semua pabrik-pabrik itu sudah mulai terasa kelangkaan biji plastik,” ujar Ghimoyo.

Masalah ini berdampak langsung ke distribusi pangan. Banyak komoditas bergantung pada kemasan plastik.

“Ini lebih krusial karena ini seluruh pangan, seluruh pupuk, seluruh beras itu menggunakan karung plastik, lalu kemasan-kemasan kiloan, kemasan minyak goreng juga menggunakan bahan yang sama,” tutur Ghimoyo.

ID Food berperan dalam menjaga pasokan pangan nasional. Perusahaan mengelola Cadangan Beras Pemerintah (CPP) serta ikut mengendalikan stok gula, cabai, daging sapi, kerbau, unggas, telur, beras, dan minyak goreng.

Tekanan pasokan plastik tidak berdiri sendiri. Gangguan berasal dari rantai pasok global.

Baca juga: Harga Plastik Naik Imbas Pasokan Petrokimia Global Terganggu, UMKM Tertekan

Sebagian besar bahan baku plastik berupa nafta berasal dari kawasan Teluk. Porsinya mencapai sekitar 70 persen. Konflik di Asia Barat menutup jalur distribusi utama di Selat Hormuz. Arus minyak dan produk petrokimia ikut terganggu.

Nafta merupakan turunan bahan bakar fosil yang menjadi input utama industri plastik.

Dampak langsung terlihat pada harga. Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mencatat kenaikan signifikan.

Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan menyebut harga plastik naik hingga 50 persen sejak konflik meletus pada 28 Februari.

“Jauh sebelum memasuki Ramadhan itu masih 10.000. Kemudian bertahap tuh selama sepekan, sepekan, sepekan naik Rp 500, naik Rp 700, naik macam-macam tuh sampai hari ini puncaknya itu naiknya di kita proyeksikan di 50 persen,” kata Reynaldi saat dihubungi Kompas.com, Senin.

Kenaikan biaya kemasan berisiko menekan rantai distribusi pangan. Beban tidak hanya berhenti di produsen, tetapi berpotensi merambat ke harga di tingkat konsumen.

Tag:  #food #kesulitan #kemasan #pasokan #plastik #seret #imbas #konflik #timur #tengah

KOMENTAR